Netanyahu Lagi-lagi Terjerat Skandal, Kini Qatargate

15 hours ago 5

CNN Indonesia

Sabtu, 05 Apr 2025 20:10 WIB

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali terjerat skandal setelah polisi menangkap dua orang rekan dekatnya pekan ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali terjerat skandal setelah polisi menangkap dua orang rekan dekatnya pekan ini (REUTERS/Yair Sagi)

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali terjerat skandal setelah polisi menangkap dua orang rekan dekatnya pekan ini atas dugaan menerima uang dari Qatar untuk mempromosikan citra positif negara itu di Israel.

Kasus ini jadi sorotan warga Israel, sebab Qatar selama ini dianggap sebagai pelindung Hamas. Apalagi Qatar juga tak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel.

Namun, Qatar menjadi mediator utama Hamas dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari The Times, penyelidikan Qatargate memperpanjang daftar skandal Netanyahu, karena ia juga masih harus menjalani sidang kasus korupsi.

Sejumlah pihak menuding Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir terus berupaya untuk melemahkan lembaga negara di Israel, termasuk peradilan. Baru-baru ini, lawan politik Netanyahu juga menyoroti keputusannya memecat kepala badan keamanan dalam negeri Israel, yang juga sedang menyelidiki Qatargate.

Masih mengutip The Times, dua penasihat dekat Netanyahu --konsultan media lama Jonatan Urich dan mantan juru bicara Eli Feldstein-- juga diduga menjalankan kampanye untuk meningkatkan citra Qatar di mata warga Israel.

Kampanye itu bersamaan saat Israel bernegosiasi dengan Hamas untuk gencatan senjata di Gaza. Pembayaran diduga disalurkan melalui pelobi Amerika.

Menurut dokumen pengadilan, pelobi Amerika dan Urich menjalin hubungan bisnis untuk mempromosikan Qatar secara positif dan menyebarkan pesan negatif tentang Mesir, negara lain yang menjadi mediator penting dalam negosiasi gencatan senjata Israel-Hamas.

Sementara, Feldstein diduga dibayar untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada para jurnalis.

Salah seorang jurnalis Israel yang diperiksa dalam kasus ini adalah pemimpin redaksi Jerusalem Post, Zvika Klein.

Menurut laporan media itu, Klein mengunjungi Qatar atas undangan pemerintahnya tahun lalu. Usai kunjungan itu, Klein menuliskan artikel berupa bantahan Qatar atas tudingan mereka mendukung Hamas. 

Surat kabar itu mengatakan Klein, yang tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar, saat ini dilarang berbicara kepada para jurnalis.

Sementara, Netanyahu mengecam penyelidikan itu sebagai perburuan politik dan menuduh polisi menahan para penasihatnya sebagai sandera.

(thr/vws)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International