Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte, mengatakan ia "sangat yakin" aliansi tersebut mampu membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Rutte menanggapi kritik tajam yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap NATO akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rutte mengeklaim lantaran operasi militer tersebut bersifat rahasia, maka negara-negara NATO harus meluangkan waktu untuk menyamakan respons mereka.
"Sekutu dan mitra Eropa di seluruh dunia selama beberapa minggu terakhir ini terus memastikan bahwa kita bersatu," kata Rutte, seperti dikutip CNN.
"Mereka mulai merencanakan untuk melihat apa yang dapat kita lakukan secara kolektif sebagai sekutu, sebagai mitra Amerika Serikat," ungkap Rutte.
Dia juga menyebut operasi AS tersebut penting karena "ancaman eksistensial" dari Iran.
Sebelumnya Trump mengecam NATO karena dianggap kurang mendukung perang AS dan Israel melawan Iran. Trump bahkan menyebut NATO penakut.
"Negara-negara NATO adalah penakut," kata Trump di Truth Social pada Sabtu (21/3).
Kecaman Trump ini muncul setelah pada Jumat NATO mengumumkan bahwa mereka 'menyesuaikan' misinya di Irak, setelah para pejabat di negara itu mengatakan pasukan non-tempur telah ditarik sementara karena perang Iran.
Pada Minggu (23/3) Trump juga mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam . Trump mengancam bakal menghancurkan pembangkit listrik Iran, jika Selat Hormuz tidak dibuka.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dulu," ujar Trump.
AS hingga saat ini telah menahan diri untuk tidak menargetkan lokasi energi Iran di tengah kekhawatiran akan dampak langkah tersebut terhadap ekonomi global.
Iran menanggapinya dengan mengancam akan meluncurkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan air di kawasan.
"Iran akan sepenuhnya menutup Selat Hormuz dan meluncurkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan air di kawasan jika pembangkit listrik kami diserang," demikian pernyataan otoritas Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga ancaman penutupan berpotensi mengguncang pasar energi global.
(dna)
Add
as a preferred source on Google

















































