Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan harga minyak goreng di dalam negeri masih terkendali meskipun muncul prediksi bahwa harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) berpotensi naik hingga US$1.000 per ton.
Budi mengatakan hingga saat ini belum ada indikasi kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik. Ia menyebut harga minyak goreng justru masih stabil, bahkan beberapa jenis mengalami penurunan.
"Enggak, enggak. Saat ini belum ada info ke saya. Selama ini belum ada kenaikan," kata Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menilai kemungkinan harga minyak goreng melonjak hingga Rp20 ribu per liter masih kecil dalam kondisi saat ini.
"Menurut saya belum (harga minyak goreng tembus Rp20 ribu per liter)," ujarnya.
Budi menambahkan pemantauan harga yang dilakukan pemerintah menunjukkan harga minyak goreng di dalam negeri masih relatif stabil.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga minyak goreng merek Minyakita bahkan tercatat mengalami penurunan.
"Saya belum ketemu (dengan GAPKI), tapi kan gini, sekarang kan harga minyak dalam negeri, minyak goreng enggak ada masalah. Terus kemarin kalau cek harga Minyakita aja juga sekarang malah turun, kan? Sekarang Rp15.800 per liter, cek di SP2KP turun terus grafiknya. Jadi belum ada pengaruhnya sampai sekarang," ujarnya.
Ia juga menilai kondisi saat ini berbeda dengan situasi pada 2021-2022 ketika harga minyak goreng sempat melonjak tajam di pasar domestik.
"Ya, rasanya sih enggak deh (kondisi itu berpotensi terulang)," kata Budi.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sebelumnya melaporkan produksi minyak sawit nasional terus meningkat sepanjang 2025. Produksi CPO mencapai 51,7 juta ton, naik sekitar 7,2 persen dibandingkan 48,2 juta ton pada 2024.
Permintaan ekspor juga tercatat meningkat seiring harga minyak sawit yang relatif lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya. Volume ekspor sawit pada 2025 tercatat naik 9,5 persen, dari sekitar 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton.
Sementara itu konsumsi dalam negeri juga meningkat 3,8 persen, dari 23,9 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 24,8 juta ton pada 2025. Kenaikan terbesar berasal dari sektor biodiesel yang meningkat sekitar 11 persen, sedangkan konsumsi pangan justru turun sekitar 3,6 persen.
Meski demikian, pelaku industri memperkirakan harga CPO global masih akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi industri sawit, harga minyak sawit dalam jangka pendek diperkirakan berada di kisaran US$1.050 hingga US$1.125 per ton hingga kuartal I-2026.
Selain faktor permintaan global, harga sawit juga dipengaruhi sejumlah sentimen lain seperti program replanting perkebunan sawit, potensi fenomena El Nino, serta dinamika kebijakan biodiesel.
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google


















































