Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di kementeriannya menembus Rp243,41 triliun di tengah penurunan harga sejumlah komoditas tahun lalu.
Realisasi ini terdiri dari PNBP SDA Minerba dan SDA Panas Bumi yang tercatat Rp138,37 triliun dan PNBP SDA Migas yang sebesar Rp105,04 triliun.
Bahlil menjelaskan kontribusi terbesar PNBP ESDM berasal dari sektor mineral dan batu bara (minerba) yang realisasinya melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Padahal, harga batu bara tahun lalu cenderung melemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercatat, pada Januari 2025, harga batu bara acuan (HBA) masih US$124,01 per ton. Namun, pada Desember 2025, harganya turun menjadi US$100,81 per ton.
"Pencapaian target dari PNBP di sektor minerba itu mencapai 108,56 persen, melampaui target. Di dalam DIPA itu Rp127,44 triliun dalam APBN, tetapi realisasinya adalah Rp138,37 triliun," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM 2025 di kantornya, Kamis (8/1).
Ia menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif jajaran Kementerian ESDM yang dilakukan secara serius dan penuh inovasi, terutama di tengah tekanan harga komoditas.
"Ini saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan," katanya.
Bahlil juga memaparkan realisasi PNBP dari sektor minyak dan gas bumi (migas) yang hanya mencapai 83,7 persen dari target Rp125,46 triliun di APBN. Pasalnya, pendapatan negara dari sektor ini terdampak oleh penurunan harga minyak dunia.
"Yang berikut PNBP di sektor migas, sekalipun kita punya liftingnya sampai di 605,3 ribu barel per day, namun saya harus menyampaikan bahwa di dalam APBN asumsi kita harga ICP itu US$82 (per barel). Namun, kenyataannya rata-rata sejak dari Januari sampai 30 Desember rata-rata harga minyak dunia itu US$68 (per barel)," jelasnya.
Menurut Bahlil, selisih antara asumsi harga minyak dalam APBN dan realisasi di pasar global membuat penerimaan negara dari sektor migas tidak mencapai target.
"Begitu harganya tidak sampai US$80 dolar, itu berdampak pada pendapatan negara kita. Karena itu, pendapatan negara kita untuk di sektor migas hanya mencapai Rp105,4 triliun dari target Rp125 triliun," ucapnya.
Ia kembali menekankan bahwa tekanan harga komoditas menjadi faktor utama dibalik tidak tercapainya target PNBP migas, meski dari sisi produksi relatif sesuai rencana.
"Alasannya apa? Karena sekali lagi asumsi di APBN ICP itu 82 dolar, tapi real-nya US$68 (per barel). Lifting kita tercapai tapi harganya memang lagi turun, memang harga komoditas sekarang lagi turun semua," terangnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, lifting minyak bumi sepanjang 2025 mencapai rata-rata 605,3 MBOPD atau 100,05 persen dari target APBN. Pertama kali naik dalam 9 tahun terakhir.
Sementara, lifting gas bumi pada 2025 hanya mencapai rata-rata 951,8 MBOEPD dari target 1.005 MBOEPD.
(ldy/sfr)
















































