Jangan Ambil Pusing, Ini 7 Cara Hadapi Pacar yang Sering Minta Putus

5 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 13:15 WIB

Pacar sering mengancam putus saat konflik? Ini cara bijak menyikapinya tanpa kehilangan harga diri dan kestabilan emosi. Ilustrasi. Pasangan minta putus setiap bertengkar, sebaiknya lakukan beberapa cara ini untuk menghadapinya. (Takmeomeo/Pixabay)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Hubungan asmara seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bukan tempat yang dipenuhi ancaman perpisahan setiap kali konflik muncul. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit orang menghadapi pasangan yang mudah mengatakan ingin berpisah saat emosi memuncak.

Karena itu, penting memahami cara menghadapi pacar yang selalu minta putus tanpa harus kehilangan harga diri maupun kestabilan emosional.

Perlu disadari, ancaman putus yang terus diulang bukan sekadar kata-kata biasa. Dalam hubungan yang sehat, komunikasi memiliki bobot dan tanggung jawab emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika kata 'putus' digunakan berulang kali sebagai senjata saat bertengkar, fondasi hubungan seperti kepercayaan dan rasa aman dapat perlahan rusak.

Memahami cara menghadapi pacar yang selalu minta putus menjadi langkah penting agar Anda bisa merespons dengan bijak, bukan reaktif.

Dikutip dari laman Abby Medcalf dan Roots Relational Therapy, berikut cara yang bisa dilakukan:

1. Anggap kata-katanya serius

Kesalahan paling umum adalah menganggap ucapan putus hanya sebagai luapan emosi. Padahal, kata-kata memiliki makna dan konsekuensi.

Ketika pasangan mengatakan ingin berpisah, dengarkan dan tanggapi dengan serius. Sikap ini menunjukkan bahwa Anda menghargai diri sendiri sekaligus menghormati apa yang disampaikan pasangan.

2. Jangan langsung memohon atau memperbaiki situasi

Reaksi spontan seperti memohon, mengejar, atau meminta maaf secara berlebihan justru menempatkan Anda pada posisi lemah.

Hubungan yang sehat tidak dibangun dari rasa takut kehilangan semata. Beri ruang emosional agar situasi mereda sebelum mencoba berdiskusi lebih jauh.

3. Pahami bahwa 'break' sering berarti putus

Banyak pasangan menggunakan istilah 'break' sebagai jalan tengah. Namun, dalam praktiknya, jeda hubungan kerap menjadi awal perpisahan permanen.

Mengubah cara pandang ini membantu Anda lebih realistis dan tidak terjebak dalam harapan semu.

4. Tetapkan batasan komunikasi yang jelas

Jika ancaman putus terjadi berulang, Anda berhak menetapkan batasan. Sampaikan dengan tenang bahwa kata-kata tersebut menyakitkan dan tidak bisa terus digunakan dalam konflik.

Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang bertanggung jawab, bukan ancaman.

5. Fokus pada tanggung jawab emosional masing-masing

Setiap individu bertanggung jawab atas cara mereka menyampaikan emosi. Perasaan marah atau kecewa memang valid, tetapi cara mengungkapkannya tetap harus dewasa.

Hubungan yang kuat dibangun melalui komunikasi yang sadar konsekuensi dan dipikirkan dengan matang.

6. Evaluasi hubungan

Ancaman putus yang berulang sering menjadi tanda adanya masalah mendasar. Bisa jadi salah satu pihak sudah tidak sepenuhnya berkomitmen.

Gunakan momen ini untuk mengevaluasi apakah Anda dan pasangan masih tumbuh ke arah yang sama, atau hanya bertahan karena kebiasaan dan rasa takut.

7. Siap menerima konsekuensi nyata

Dalam banyak kasus, konsekuensi alami adalah guru terbaik. Jika pasangan terus mengatakan ingin berpisah, mungkin hubungan memang perlu dihentikan atau diperbaiki secara serius.

Hubungan hanya dapat bertahan jika kedua pihak benar-benar ingin tetap bersama. Bertahan sendirian tidak akan menciptakan kebahagiaan jangka panjang.

Alasan pacar sering mengancam putus

Selain memahami cara menyikapinya, penting juga mengetahui motif di balik perilaku ini. Secara umum, ada tiga alasan utama:

1. Manipulasi emosional

Ancaman putus dapat digunakan untuk mengalihkan fokus konflik. Alih-alih menyelesaikan masalah, pasangan mencoba mendapatkan kendali dengan membuat Anda takut kehilangan hubungan.

2. Ketidakmatangan emosional

Sebagian orang belum memiliki keterampilan komunikasi yang sehat. Saat merasa kewalahan, mereka memilih "jalan keluar cepat" dengan mengatakan ingin berpisah karena tidak tahu cara mengelola konflik.

3. Ketakutan menghadapi kenyataan hubungan

Ada pula yang merasa hubungan tidak berjalan baik, tetapi tidak berani mengambil keputusan tegas. Mereka berharap Anda yang mengakhiri hubungan terlebih dahulu.

Apa pun alasannya, ancaman perpisahan tetap membawa dampak serius terhadap kesehatan hubungan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang sama-sama memilih untuk tetap tinggal, bukan karena takut kehilangan, melainkan karena benar-benar ingin bersama.

(gas/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International