Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah bahan pangan masih menunjukkan harga tinggi menjelang Idulfitri 2026.
Komoditas seperti cabai rawit, telur ayam ras, hingga daging ayam ras terpantau menjadi yang paling perlu mendapat perhatian, karena mengalami kenaikan harga di banyak daerah.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga beberapa komoditas pangan tersebut terpantau dalam indeks perkembangan harga (IPH) hingga minggu pertama Maret 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang perlu memperoleh perhatian adalah kenaikan dari telur ayam ras, yang jumlah kabupaten kotanya sampai saat ini ada 210 kabupaten kota yang mengalami kenaikan IPH. Cabai rawit juga perlu mendapatkan perhatian walaupun hanya 177 kabupaten kota," ujar wanita yang akrab disapa Winny itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (9/3).
BPS mencatat harga telur ayam ras menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling luas secara geografis. Hingga awal Maret 2026, sebanyak 210 kabupaten/kota tercatat mengalami kenaikan harga telur ayam ras.
Secara nasional, harga rata-rata telur ayam ras mencapai Rp32.475 per kilogram (kg), atau naik sekitar 1,47 persen dibandingkan Februari 2026. Kenaikan tersebut membuat harga telur masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yakni Rp30 ribu per kg.
Di beberapa daerah, lonjakan harga bahkan jauh lebih tinggi. Misalnya di Kabupaten Pulau Taliabu, harga telur mencapai Rp42 ribu per kg dengan kenaikan harga 16,31 persen atau sekitar 40 persen di atas HAP. Di Kabupaten Buton Utara, harga telur sekitar Rp37.293 per kg dengan kenaikan hingga 14,69 persen.
Kenaikan harga juga terlihat di wilayah Papua, salah satunya di Kabupaten Sarmi harga telur bahkan mencapai Rp57 ribu per kg atau sekitar 90 persen di atas harga acuan.
"Beberapa kabupaten kota perlu mendapatkan perhatian karena ada yang sampai kenaikan harganya 16 persen dan sudah jauh di atas harga acuan," kata Winny.
Selain telur, cabai rawit juga masih menunjukkan harga tinggi menjelang Lebaran. Secara nasional, harga rata-rata cabai rawit tercatat Rp71.429 per kg, naik sekitar 1,99 persen dibandingkan Februari 2026.
Meski jumlah daerah yang mengalami kenaikan mulai berkurang, BPS masih mencatat 177 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga cabai rawit.
Beberapa wilayah mencatat lonjakan harga cukup tajam. Di Kabupaten Bandung Barat, harga cabai rawit sudah sekitar 38,6 persen di atas harga acuan dengan kenaikan IPH mencapai 44,63 persen.
Sementara itu, di Kabupaten Cirebon, harga cabai rawit bahkan mencapai sekitar Rp120 ribu per kg atau sekitar 110,5 persen di atas harga acuan. Kenaikan juga tercatat di sejumlah daerah lain seperti Lombok Timur, Boven Digoel, hingga Bima.
"Cabai rawit secara nasional masih menjadi PR karena harganya masih relatif tinggi di sejumlah daerah," ujar Winny.
BPS juga mencatat kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras. Rata-rata harga nasional mencapai Rp41.181 per kg, naik sekitar 0,41 persen dibandingkan Februari 2026.
Kenaikan harga daging ayam ras tercatat terjadi di sekitar 176 kabupaten/kota. Beberapa daerah yang mengalami kenaikan cukup tinggi antara lain Kabupaten Sarmi, Siak, Sumba Barat Daya, Pulau Seribu, dan Pasangkayu.
Berbeda dengan komoditas sebelumnya, harga bawang merah secara nasional justru mulai menunjukkan tren penurunan. Rata-rata harga bawang merah tercatat Rp41.906 per kg atau turun sekitar 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, di sejumlah daerah harga bawang merah masih cukup tinggi. Di Kabupaten Kepulauan Seribu, harga mencapai sekitar Rp59 ribu per kg, sementara di Kapuas Hulu sekitar Rp56 ribu dan di Sanggau sekitar Rp57 ribu-Rp58 ribu per kg.
BPS juga mencatat harga minyak goreng merek baMinyakita mulai mengalami penurunan. Secara nasional, harga rata-rata mencapai sekitar Rp16.441 per liter, turun 1,64 persen dibandingkan Februari 2026.
Namun masih ada sekitar 25 kabupaten/kota yang mencatat harga minyak goreng di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Winny menjelaskan sejumlah komoditas tersebut perlu diawasi karena memiliki bobot konsumsi tinggi dalam pengeluaran rumah tangga masyarakat.
"Kalau kita lihat dari basket konsumsi itu yang bobotnya paling tinggi adalah beras, lalu daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, serta daging sapi. Oleh sebab itu kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi ini akan mendorong inflasi," ujarnya.
Ia menambahkan setiap daerah memiliki pola konsumsi yang berbeda. Karena itu pemerintah daerah perlu memperhatikan komoditas pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat setempat agar kenaikan harga tidak memicu tekanan inflasi menjelang Lebaran.
(del/ins)


















































