CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Tak lagi pola asuh yang keras, orang tua masa kini beralih ke gentle parenting. (Istockphoto/ Fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah perubahan cara orang tua membesarkan anak, istilah gentle parenting makin sering terdengar. Banyak yang mulai meninggalkan pola asuh keras dan beralih ke pendekatan yang lebih tenang, komunikatif, dan minim bentakan.
Sekilas, cara ini terasa lebih baik. Tapi di balik itu, muncul pertanyaan: apakah gentle parenting benar-benar efektif, atau justru punya sisi lain yang perlu diperhatikan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gentle parenting dikenal sebagai pendekatan pengasuhan yang menekankan empati, komunikasi, dan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak. Anak tidak hanya diberi aturan, tapi juga diajak memahami alasan di baliknya.
Pendekatan ini tidak berarti tanpa disiplin. Justru orang tua tetap memberi batasan, hanya saja tanpa kekerasan atau hukuman yang bersifat menjatuhkan.
Dampak positif gentle parenting
Dari sisi penelitian, gentle parenting menunjukkan banyak manfaat. Penelitian dalam Clinical Child and Family Psychology Review menemukan bahwa pola asuh yang responsif dan tidak keras berkaitan dengan peningkatan kemampuan kognitif dan bahasa anak usia dini. Artinya, cara orang tua berinteraksi sehari-hari bisa ikut membentuk kemampuan berpikir dan berkomunikasi anak.
Efeknya juga terasa hingga remaja, studi di Scientific Reports yang melibatkan 159 pasangan orang tua, remaja menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan memberi ruang otonomi berhubungan dengan kesejahteraan mental yang lebih baik. Bahkan, efek positif ini terlihat pada 91-98 persen keluarga yang diteliti.
Selain itu juga, terdapat beberapa dampak pada hubungan anak dan orang tua. Berikut di antaranya:
- meningkatkan perkembangan kognitif dan bahasa,
- memperbaiki aspek sosial dan emosional,
- memperkuat keterikatan anak dan orang tua,
- serta menurunkan masalah perilaku.
Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada perasaan anak, tapi juga pada berbagai aspek tumbuh kembangnya.
Gentle parenting tidak selalu mudah dijalani
Meski sering dianggap sebagai pola asuh yang ideal, gentle parenting tidak selalu mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah studi dari PLOS Medicine yang meneliti 100 orang tua dengan anak usia 2-7 tahun menunjukkan bahwa walaupun banyak orang tua merasa lebih puas dalam mengasuh, lebih dari sepertiga di antaranya juga mengalami keraguan dan kelelahan atau burnout.
Dalam beberapa kondisi, orang tua yang terlalu menuntut diri sendiri justru merasa kurang percaya diri dalam menjalankan perannya. Temuan ini menunjukkan bahwa gentle parenting bukan hanya soal memahami teori pengasuhan yang lembut, tetapi juga membutuhkan kesiapan emosional, kesabaran, dan kestabilan dari orang tua itu sendiri.
Selain menuntut kesiapan emosional, gentle parenting juga kerap dikritik karena berisiko bergeser menjadi terlalu permisif. Hal ini bisa terjadi ketika empati dan kelembutan tidak disertai dengan batasan yang jelas.
Jika anak terus divalidasi tanpa diarahkan dengan aturan yang konsisten, ia bisa tumbuh tanpa struktur yang cukup kuat dalam kesehariannya. Padahal, berbagai penelitian tentang parenting menunjukkan bahwa anak tidak hanya membutuhkan kehangatan, tetapi juga batas yang tegas agar dapat berkembang dengan baik.
Dalam pengasuhan, ada tiga unsur penting yang perlu berjalan bersama, yaitu kehangatan (affiliation), dukungan otonomi, dan struktur yang konsisten. Artinya, bersikap lembut saja tidak cukup, anak juga perlu memahami aturan, konsekuensi, dan batas yang jelas.
Gentle parenting memang menawarkan banyak manfaat, terutama dalam membangun hubungan yang sehat dan mendukung perkembangan anak. Namun, pendekatan ini tetap punya tantangan, terutama jika tidak dibarengi dengan batasan yang jelas dan konsistensi.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google


















































