FIFPRO Harap Pemain Timnas Putri Iran Dapat Suaka di Australia

4 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Federasi Pesepak Bola Profesional Dunia (FIFPRO) berharap para pemain timnas putri Iran dapat suaka dari pemerintah Australia.

FIFPRO mendorong agar FIFA dan AFC serta pemerintah Australia dapat menggunakan pengaruhnya guna memastikan keselamatan para pemain timnas putri Iran, yang masa depannya kini diliputi ketidakpastian di tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah setelah mereka tersingkir dari Piala Asia Wanita 2026.

Berbicara di Rapat Umum FIFPRO di Sydney, Presiden FIFPRO Asia/Oseania, Beau Busch mengatakan bahwa mereka belum bisa menghubungi timnas putri Iran. Tetapi, ia mengatakan situasi ini juga merupakan tanggung jawab FIFA, AFC, dan pemerintah Australia untuk memastikan para pemain tetap memiliki pilihan atas langkah mereka selanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami telah meminta [pemerintah Australia] untuk mengupayakan agar para pemain memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan," kata Busch dikutip dari Reuters.

"Ini adalah situasi yang sangat menantang. Mungkin ada pemain yang ingin kembali. Mungkin ada beberapa pemain dalam tim yang ingin mencari suaka, atau ingin tinggal di Australia lebih lama. Mungkin ada beberapa yang sangat khawatir tentang perjalanan pulang yang mungkin akan mereka tempuh," ucap Busch menambahkan.

Kekhawatiran FIFPRO akan kesejahteraan para pemain jika mereka kembali ke Iran meningkat setelah pertandingan pembuka Piala Asia Wanita melawan Korea Selatan, di mana mereka menjadi sorotan dunia karena tidak menyanyikan lagu kebangsaan, mirip seperti aksi diam tim putra Iran di Piala Dunia 2022 di Qatar.

Seorang presenter televisi konservatif yang bersekutu dengan rezim di Iran, Mohammad Reza Shahbazi, telah menyebut para pemain timnas putri Iran sebagai 'pengkhianat masa perang' karena tidak menyanyikan lagu kebangsaan dan bahwa mereka harus "ditindak lebih keras."

Selama berada di Australia, para pemain timnas putri Iran dikawal ketat oleh petugas keamanan. Para pemain Iran pun hanya diperbolehkan berbicara dalam konferensi pers resmi yang telah ditentukan.

Dalam konferensi pers tersebut, moderator AFC dengan cepat menghentikan pertanyaan yang menyimpang dari pertandingan.

"Kami tahu bahwa para pemain masih berada [di Australia] saat ini. Tanggung jawab kami sekarang adalah terus bekerja sekeras mungkin pada AFC, FIFA, dan juga pemerintah Australia, untuk memastikan para pemain aman, bahwa mereka memiliki kendali atas apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Busch.

"Apakah mereka bisa tinggal di Australia atau ingin kembali. Bagaimana kita melakukannya dengan aman? Dan tentu saja memastikan bahwa mereka benar-benar aman ketika kembali ke Iran. Itu akan sangat sulit, tetapi FIFA memiliki kewajiban hukum terkait hak asasi manusia untuk memastikan bahwa mereka menggunakan pengaruh tersebut, dan kami mengharapkan mereka untuk melakukannya," kata Busch.

[Gambas:Video CNN]

(rhr/rhr/sry)

Read Entire Article
Korea International