FAO Ungkap Harga Pangan Global Naik 2,4 Persen Imbas Konflik Timteng

7 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengumumkan harga pangan dunia naik 2,4 persen pada Maret 2026 akibat tingginya oleh biaya energi imbas meningkatnya konflik di Timur Tengah. Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan organisasi, Jumat (3/4).

Kenaikan tersebut sekaligus menandai kenaikan harga dalam dua bulan terakhir, secara berturut-turut. Di mana, kenaikan harga terjadi pada semua kelompok komoditas utama, termasuk sereal, daging, susu, minyak nabati, dan gula.

Indeks Harga Pangan FAO berada 1,2 poin, atau 1 persen, lebih tinggi dari tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Anadolu, Jumat (3/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rinciannya, Indeks Harga Sereal tercatat naik 1,5 persen menjadi 110,4 secara bulanan (mom) dan naik 0,6 persen secara tahunan (yoy).

Selanjutnya ada Indeks Harga Minyak Nabati dengan rata-rata 183,1 poin per Maret, naik 5,1 persen dari catatan Februari. Capaian tersebut sekaligus menandai kenaikan bulanan ketiga berturut-turut, dengan kenaikan tahunan 13,2 persen.

"Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan bergerak di atas minyak kedelai, sebagian besar mencerminkan dampak dari kenaikan tajam harga minyak mentah," ungkap FAO.

Indeks Harga Daging rata-rata 127,7 poin, naik 1 persen dari Februari, sekaligus 8 persen lebih tinggi dari level tahun sebelumnya. Adapun untuk Indeks Harga Susu naik 1,2 persen dalam sebulan menjadi 120,9 poin, meskipun begitu secara tahunan levelnya 18,7 persen lebih rendah dari catatan Maret 2025.

Indeks Harga Daging rata-rata 127,7 poin, naik 1persen dari Februari dan 8persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Indeks Harga Susu naik 1,2persen dalam sebulan menjadi 120,9 poin tetapi tetap 18,7persen di bawah levelnya pada Maret 2025.

FAO mengatakan peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh harga minyak mentah yang lebih tinggi, yang meningkatkan ekspektasi bahwa Brasil, eksportir gula terbesar di dunia, akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.

"Tekanan kenaikan tambahan pada harga gula berasal dari kekhawatiran tentang dampak eskalasi konflik Timur Tengah terhadap arus perdagangan gula," tambahnya.

[Gambas:Video CNN]

(ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Korea International