CIA dan Mossad Bingung Nyari di Mana Mojtaba Khamenei

5 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan intelijen Amerika Serikat (AS) dan Israel kebingungan mencari keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei saat negara itu memperingati tahun baru Nowruz.

Axios melaporkan CIA, Mossad, dan badan-badan intelijen lainnya di seluruh dunia kelimpungan mencari sosok Mojtaba yang mestinya hadir dalam perayaan Nowruz. Pemimpin tertinggi Iran biasanya muncul di publik untuk memperingati tahun baru Iran tersebut.

Namun, pada Jumat (20/3), Mojtaba tak terlihat sedikit pun. Saluran media sosial resminya hanya merilis pesan tertulis yang menyerukan persatuan bangsa Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasca ditunjuk sebagai pengganti ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas diserang AS-Israel pada 28 Februari lalu, Mojtaba belum pernah sekali pun menunjukkan batang hidungnya ke publik.

Sejumlah media melaporkan ia terluka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya. Menurut laporan media, Mojtaba mengalami patah tulang pada kaki dan luka robek pada wajah.

Media Kuwait Al Jarida sempat mengutip sumber di Teheran yang menyatakan Mojtba saat ini berada di Rusia untuk menjalani operasi dan pemulihan. Ia diangkut ke Moskow menggunakan pesawat militer Rusia atas permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Meski begitu, Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali tak lama kemudian membantah bahwa Mojtba dirawat di Moskow.

Setelah bantahan tersebut, keberadaan Mojtaba pun menjadi abu-abu. Tidak ada yang tahu pasti lokasi spesifiknya dan bagaimana keadaannya.

CIA, Mossad, dan berbagai intelijen dunia lantas berusaha keras mencari tahu soal ini. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa CIA berupaya mengidentifikasi foto Mojtaba yang diunggah di media sosialnya untuk menentukan apakah foto-foto tersebut baru atau lama.

"Kami berharap melihat Mojtaba juga dalam bentuk tertentu. Dia tidak memanfaatkan kesempatan dan tradisi tersebut," kata pejabat AS yang tak ingin diidentifikasi tersebut.

"Ini adalah pertanda buruk," ujarnya lagi.

Raz Zimmt, direktur Program Iran di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv meyakini bahwa Mojtaba saat ini beroperasi di balik layar. Meski begitu, perannya tak begitu signifikan karena masalah cedera dan keamanannya.

"Dalam keadaan luar biasa saat ini, kita tidak bisa mengharapkan dia untuk tampil di depan umum dan mungkin saja cedera yang dialaminya bahkan tidak memungkinkan dia untuk merilis video rekaman agar tidak memperlihatkan kepada publik seberapa parah kondisinya," kata Zimmt.

Menurut tiga sumber AS yang mengetahui pengarahan rahasia CIA di Kongres, Direktur CIA John Ratcliffe dan Direktur Badan Intelijen Pertahanan Jenderal James Adams bersaksi bahwa rezim Iran tidak runtuh pasca Khamenei tewas.

Kendati demikian, mereka opitimistis ada krisis komando dan kendali yang mendalam di negara itu.

"Kami tidak memiliki bukti bahwa dialah yang benar-benar memberi perintah," kata seorang pejabat senior Israel kepada Axios.

AS dan Israel disebut memiliki informasi intelijen yang memastikan bahwa Mojtaba masih hidup. Salah satunya, bukti bahwa sejumlah pejabat Iran meminta pertemuan tatap muka dengannya, yang tentu saja gagal dilakukan karena masalah keamanan.

Selain mencari keberadaan Mojtaba, AS dan Israel saat ini juga disebut tengah mencari siapa kepala komando Iran yang sebenarnya.

Pada 12 Maret lalu, Mojtaba untuk pertama kalinya menyampaikan pidato publik pasca resmi dipilih menggantikan ayahnya. Pidato itu disiarkan televisi pemerintah dalam bentuk teks yang dibacakan. Tidak ada sosok Mojtaba secara fisik dalam momen tersebut.

Sejumlah pihak di Iran, menurut laporan Al Jarida, meyakini bahwa pidato itu bukan ditulis oleh Mojtaba, melainkan Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran Ali Larijani.

Dua hari setelah laporan Al Jarida tersebut, AS-Israel membunuh Ali Larijani dalam serangan di Teheran pada 17 Maret.

Kendati Larijani telah tewas, Iran faktanya masih tetap berdiri kuat. AS dan Israel kini meyakini bahwa Teheran tampaknya dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

"Ini sangat aneh. Kami kira Iran tidak akan bersusah payah memilih orang yang sudah meninggal sebagai pemimpin tertinggi, tapi pada saat yang sama, kami juga tidak punya bukti bahwa dia mengambil alih kepemimpinan," kata pejabat AS.

[Gambas:Video CNN]

(blq/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Korea International