Jakarta, CNN Indonesia --
Perum Bulog mengungkap kondisi stok beras di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat usai 70 ribu hektare (ha) sawah di ketiga daerah terendam saat banjir besar Sumatra.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memperkirakan kondisi persawahan di daerah terdampak banjir akan kembali seperti semula dalam 2-3 bulan dan akan dipulihkan kembali oleh Kementerian Pertanian (Kementan).
"Memang dalam hal ini karena luasannya juga lumayan cukup banyak 70.000 hektare ini otomatis akan berdampak akan hasil masing-masing provinsi maupun kabupaten daerah untuk diserap menjadi beras kami. Namun kami berharap ini akan segera pulih dalam waktu dekat karena program dari Pak Menteri Pertanian khususnya ini luar biasa segera akan ditindaklanjuti dan mudah-mudahan dalam waktu 2-3 bulan bisa operasional kembali," ujar Rizal dalam konferensi pers di kantor pusat Bulog, Jakarta Selatan, Jumat (2/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulog telah menambah bantuan beras sebanyak tiga kali lipat untuk memastikan stok beras di tiga provinsi tersebut bisa mencukupi selama masa pemulihan sawah.
Untuk penyaluran bantuan bencana di daerah terdampak banjir, Bulog telah menyalurkan sebanyak 14.227 ton, dengan rincian ke Aceh sebesar 8.676 ton, Sumatera Utara sebesar 4.482 ton, dan Sumatera Barat sebesar 1.069 ton.
"Contoh umpamanya Kabupaten Benar Meriah melihat kemarin minta tambahan 1000 ton, itu kami stokkan tambah jadi 3000 di kabupaten tersebut stoknya nah ini supaya menjamin masing-masing kabupaten kota itu tidak kekurangan," imbuhnya.
Sementara itu, stok bantuan pangan di gudang daerah terdampak banjir, yakni di gudang Aceh sebesar 75.937 ton, Sumatera Utara sebesar 25.781 ton, dan Sumatera Barat sebesar 8.527 ton.
Sebelumnya, Kementan mencatat sebanyak 70 ribu ha sawah terendam di daerah terdampak bencana banjir.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan apabila yang mengalami puso mencapai 15 sampai 20 ribu ha, maka sisanya tidak akan gagal panen meski terdampak.
"Nah kalau yang terdampak itu kan misalnya 70 ribu (hektare), sisanya bagaimana terdampak itu? Misalnya dia akses jalannya putus, kemudian dia terendam tapi tidak mati padinya, itu tanamannya tidak mati, itu namanya terdampak. Tapi kemudian tidak puso. Kalau puso itu gagal panen namanya," ujar Sudaryono di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (31/12).
Sudaryono pun memastikan pemerintah akan mencetak ulang sawah yang terendam banjir seperti semula serta memberikan benih dan alat mesin pertanian (alsintan) gratis untuk membantu petani menanam kembali sawahnya.
"Nah yang puso itu kan sekitar 15.000-20.000 hektare. Itulah kemudian nanti pemerintah datang. Itu kan sudah tidak berbentuk sawah lagi. Nanti kita ada cetak sawah, kita bikinkan sawahnya, kita kasih benihnya, kita kasih alat mesin pertaniannya. Jadi sawah yang karena bencana kemudian tidak jadi sawah lagi itu kita kembalikan seperti sawah sedia kala," ucapnya.
(fln/pta)














































