CNN Indonesia
Senin, 23 Mar 2026 05:27 WIB
Ilustrasi. Ini alasan pemotor hobi marah-marah kalau ditegur soal rokok. (Skitterphoto/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena pengendara sepeda motor yang tersulut emosi saat ditegur karena merokok di jalan bukan hal baru.
Di media sosial, berulang kali muncul video yang memperlihatkan teguran sederhana justru berujung cekcok, bahkan kekerasan. Salah satu insiden terbaru terjadi di kawasan Palmerah, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.
Seorang pemotor marah ketika diminta mematikan rokoknya. Situasi semakin memanas karena respons tersebut justru didukung pengendara lain, hingga berujung makian dan aksi fisik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, tanpa perlu diperdebatkan, merokok saat berkendara jelas membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain di jalan.
Pakar keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, menjelaskan bahwa salah satu pemicu emosi adalah faktor kebiasaan dan psikologis yang sederhana, yakni rasa 'tanggung'.
Menurutnya, banyak pengendara enggan mematikan rokok karena merasa belum selesai menikmatinya. Harga rokok yang relatif mahal juga membuat sebagian orang merasa sayang jika harus membuangnya di tengah jalan.
Kondisi ini membuat mereka cenderung defensif saat ditegur. Teguran yang sebenarnya bertujuan baik justru dianggap sebagai gangguan terhadap kenyamanan pribadi.
Melansir Detik, di balik kebiasaan tersebut, ada risiko serius yang kerap luput dari perhatian. Abu rokok yang terbawa angin bisa mengenai mata pengendara lain dan memicu cedera, bahkan berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan.
Belum lagi bara api rokok yang bisa mengenai kulit atau memicu kecelakaan kecil yang berujung fatal, terutama di jalan yang padat. Selain faktor kebiasaan, Sony menyoroti karakter berkendara yang masih menjadi masalah umum: ego tinggi dan emosi yang mudah tersulut.
Dalam situasi jalanan yang padat dan penuh tekanan, banyak pengendara berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil. Akibatnya, teguran sekecil apa pun bisa dianggap sebagai serangan personal.
Tak jarang, reaksi berlebihan ini juga dipengaruhi oleh rasa ingin 'menjaga harga diri' di ruang publik, terlebih jika ditegur di depan orang lain.
Meski demikian, bukan berarti pelanggaran di jalan harus didiamkan. Menurut Sony, masyarakat tetap boleh saling mengingatkan, mengingat merokok saat berkendara juga melanggar aturan keselamatan lalu lintas.
Namun, cara menyampaikan teguran menjadi kunci. Intonasi yang santun, tidak provokatif, dan tidak menghakimi dapat mengurangi potensi konflik.
Pada akhirnya, keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Teguran yang disampaikan dengan bijak, serta kesadaran untuk saling menghormati, menjadi langkah kecil yang bisa mencegah konflik dan mungkin, menyelamatkan nyawa.
Baca selengkapnya di sini.
(tis)
Add
as a preferred source on Google

















































