Jakarta, CNN Indonesia --
Ada tiga faktor utama mengapa pasar mobil listrik bekas hingga kini belum terbentuk dan minim transaksi meski pembelian mobil listrik baru terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur OLXmobbi Agung Iskandar menyampaikan faktor pertama disebabkan masih sangat jarang perusahaan pembiayaan mau memberikan fasilitas kredit kepada pembeli mobil listrik bekas.
"Tidak ada perusahaan pembiayaan yang mau membiayai (pembelian mobil listrik bekas). Karena mereka takut sama resell value-nya. Kalau nanti pokok hutangnya lebih gede daripada resell value, costumer (mikir) balikin aja mobilnya," kata Agung di Jakarta beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kalau mau beli mobil listrik bekas harus siap bayar cash. Jadi tak ada yang mau, sedangkan orang yang beli mobil bekas kan 50 persen kredit, jadi separuhnya sendiri. Itu yang bikin orang tidak mau beli mobil listrik bekas," ungkap Agung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kedua, kata Agung terletak pada masa garansi yang berakhir ketika mobil listrik berpindah pemilik.
Agung melanjutkan faktor berikutnya yang kini terus menjadi sorotan adalah depresiasi harga mobil listrik bekas. Menariknya, meski harga mobil listrik sudah murah, tetap peminatnya minim.
Ia mengatakan depresiasi mobil listrik di Indonesia relatif besar, yakni mencapai 50 persen.
"Tapi kalau harga sudah stabil seperti Ioniq 5 dan Air EV turunnya lumayan, tiga tahun bisa 50 persenan. Misal Ioniq 5 sekarang yang tahun 2022 itu sekitar Rp350 juta sampai Rp450 juta, barunya masih Rp800 juta," ujarnya.
Depresiasi harga mobil listrik bekas juga dipengaruhi strategi diskon mobil baru serta munculnya model mobil listrik lain dengan spesifikasi dan harga lebih kompetitif.
"Dan sekarang banyak juga mobil listrik lebih bagus baru dan lebih murah," tutup Agung.
(ryh/mik)


















































